Labyrinthe de Bougies

Small candles will always illuminate your way in this labyrinth…

Perempuan yang Katanya Durjana Itu: A Short Story



Sepanjang jalinan memori setiap orang, desa ini selalu damai dan orang-orangnya santun lagi menjunjung norma. Jalinan benang itu kini baru saja diputus. Oleh perempuan yang puting dan pahanya sering ia pamerkan ke mana-mana itu.

Mengenai perempuan ini (kami menyebutnya perempuan, bukan wanita, sebab ia terlalu tidak terhormat untuk menyandang sebutan penuh penghargaan itu: wanita), tidak diketahui jelas dari mana ia datang dan mengapa. Ada yang terang-terangan bilang dia sundal pelacur. Versi yang lebih sopan mengatakan bahwa ia bintang film (sangat mungkin film porno, mereka menambahkan dengan bersemangat) yang muak dengan hiruk-pikuk dan gerlap lampu perkotaan yang kelewat silau. Tapi mengapa desa kami? Orang-orang bertanya-tanya penuh kekesalan dan kebencian tertahan. Mengapa harus desa kami yang aman dan penuh norma yang ia pilih? Kenapa ia tidak langsung saja ke rumah bordil atau desa lain yang moral penduduknya sudah terpuruk seperti halnya ia?

Kepala desa dengan bijak menyimpulkan, “Iblis tak perlu mendatangi orang jahat yang sudah jadi sekutunya. Pastilah ia akan mengganggu orang-orang baik, berusaha membuat mereka meninggalkan jalan kebaikan…. Kita tidak bisa menggebah Iblis, kita hanya bisa bertahan dari godaan-godaannya. Inilah hidup manusia, harus kita jalani.”

Dia telah mengatakan hal yang paling ingin didengar orang, maka penduduk lain mengangguk-angguk setuju. Namun bahkan saat mereka mengangguk, sesuatu yang tak dikenal melintas bagai kilat pada mata mereka, entah lelaki maupun perempuan, entah tua atau muda. Dan sejak itu atmosfer desa ini tak pernah sama lagi.

Sesuatu senantiasa melintas di mata para penduduk saat perempuan itu lewat, meninggalkan harum parfumnya yang menyengat di belakangnya. Sesuatu membuncah di dada. Sesuatu berusaha mengambil wujud entah dalam liur untuk meludahi perempuan itu atau kata-kata kotor untuk memakinya, namun tak ada yang berhasil memanifestasikan diri. Norma harus dijaga. Maka dengan pahit mereka memalingkan wajah dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Tetapi senyum dan keramahtamahan sudah lenyap dari sana, tinggal tersisa lautan yang keruh dan getir pada setiap raut muka.

Perempuan itu muncul lagi. Kali ini dengan pakaian yang begitu minim dan ketatnya sampai kaum pria tidak tahan untuk tidak menaksir mengira-ngira seberapa ranum dan besar dan manis buah yang menggantung pada dadanya, dan bahkan menebak-nebak warna celana dalamnya. Kaum wanita, yang bahkan tak pernah membayangkan diri mereka dalam potongan pakaian itu, dan selalu berpakaian sopan tertutup, hanya mendengus. Kali ini mereka tidak menyembunyikan tatapan mereka yang penuh emosi, dan “sesuatu” dalam mata mereka itu kini sudah memiliki wujud baru: dengusan. Para pria mendengar dengusan itu dan mata mereka yang tadinya nyalang kembali merunduk, berusaha menyembunyikan apa yang baru saja mereka tak sengaja perlihatkan.

Dengusan menjelma kata. Awalnya sayup, perlahan kian keras kian jelas, diperbincangkan di pasar, di jalan, di rumah oleh wanita-wanita yang sekarang jadi sering melupakan kewajiban mereka mengurus rumah tangga. Bergosip dengan tetangga jadi lebih penting ketimbang memasak mencuci.

Para pria lebih diam. Dalam bahasa sunyi itu, mereka saling memahami. Ya, hanya dalam senyap segala rasa ini boleh didedahkan. Membicarakannya dengan bahasa kata adalah tabu yang mencabik-cabik tenda norma yang selama ini mereka dirikan dan junjung tinggi. Tapi yang ditahan oleh lidah tak bisa lagi disembunyikan oleh mata, tidak dapat pula menyumbat hidung mereka yang, entah kenapa, kini bernapas dengan tempo allegro yang memburu. Dan degup jantung mereka tak ubahnya detak jam dari sebuah bom waktu.

Bom itu akhirnya meledak. Istri bertengkar dengan suami. Anak-anak menangis ketakutan. Tidakkah ini benar, bahwa perempuan durjana itu membawa Iblis bersama dengan bibir tebalnya yang merah kesumba, susunya yang putih ranum, rambutnya yang sutera melambai, tungkainya yang jenjang dan halus mulus? Semua keindahan itu, yang ia pertontonkan tanpa malu tanpa rasa berdosa. Bukankah ia yang membawa hawa jahat ke desa ini?

* * *

“Ke mana perempuan itu?”

Seolah pertanyaan yang disampaikan semata karena penasaran itu merupakan wahyu, seisi desa akhirnya menyadari bahwa perempuan durjana itu telah menghilang. Tak seorangpun tahu atau yakin sejak kapan, karena mereka telah terbiasa menghindar jika si perempuan lewat.

“Rumahnya?”

Rumah bercat putih itu terkunci.

“Ada kemungkinan dia di dalam?”

Tentu saja kemungkinan itu selalu ada, namun mendobrak pintu orang lain akan menyalahi norma.

“Tapi baguslah kalau dia sudah tidak ada lagi di sini.”

Kepala desa membubarkan massa yang berkumpul di muka rumah si perempuan. Mereka pergi dengan penasaran bercampur lega. Pelan-pelan, kenormalan dan kedamaian kembali ke desa yang sempat ternoda oleh kehadiran sundal itu.

* * *

Ada yang tengah menangis. Tangisan itu, yang bukan isakan maupun sedu-sedan emosional, melainkan lengkingan polos berirama, bergema pada cakrawala hitam pada bumi coklat.

Istri kepala desa terbangun. “Mas….” Ia mengguncang-guncang tubuh suaminya. “Anak-anak apa ada yang nangis?”

“Mana ada…,” sahut kepala desa sekenanya. Ia baru setengah bangun.

Suara tangisan itu terdengar lagi, lebih keras, lebih tinggi.

“Tuh kan ada,” desak sang istri.

Kali ini kepala desa juga mendengarnya. Ia bangkit dari posisi berbaringnya. Keningnya berkerut, namun akhirnya pupilnya melebar menandakan kemengertian. “Ah… benar juga… tapi kayaknya dari luar rumah….”

Terdengar ketukan keras di pintu depan. Kepala desa, masih mengenakan piyama, membukakannya, dan mendapati beberapa penduduk berdiri di muka pintu rumahnya. Ekspresi mereka cemas gelisah. “Kami mendengar tangisan, Pak Kades,” kata seorang pemuda. “Sepertinya dari… dari rumah perempuan itu.”

Pupil kepala desa melebar lagi. “Rupanya dia memang masih ada di dalam rumahnya,” katanya menyimpulkan. “Ya sudah, kita ke sana sekarang.”

Bahkan menghancurkan pintu rumah orang pun diizinkan pada saat-saat mendesak. Para pria mendobrak terbuka pintu itu dalam sekitar lima detik.

Tangisan. Semakin jelas.

Bau. Bau logam asin amis.

Semuanya berasal dari dalam sebuah kamar terkunci. Kali ini kepala desa sendiri yang mendobraknya.

“Ah….”

Perempuan itu, perempuan durjana itu, terkulai telanjang mengangkang di atas dipan, bersimbah darah. Sebilah pisau di tangannya. Sesosok makhluk kecil yang juga bermandi darah bergerak-gerak lasak dan menangis melengking di antara selangkangannya. Tali pusarnya telah dipotong sendiri oleh ibunya.

Belasan warga terperangah melihat pemandangan itu. Si perempuan durjana telah mati, meninggalkan bukti hidup kedurjanaannya. Bayi.

Mereka membungkus dan menyingkirkan tubuh si perempuan. Bayi itu dimandikan dan sisa tali pusarnya diikat. Semuanya dilakukan tanpa bicara, sebab ini terlalu mengejutkan dan menakutkan bagi warga desa yang biasa hidup tenang tenteram.

“Lalu akan kita apakan bayi ini?” seorang wanita akhirnya memecah sepi.

Pendapat warga terbagi. Ada yang menganggap bayi ini titisan Iblis, sama seperti ibunya, dan sebaiknya si bayi dibunuh saja. Yang lain berpendapat ini terlalu kejam, bayi tak boleh menanggung kesalahan orang tuanya. Di sisi lain, kedua belah pihak sama-sama tidak sudi mengadopsi si bayi (panti asuhan tak ada di desa ini, jadi opsi ini tidak terpikir oleh mereka) yang notabene adalah anak haram dari seorang perempuan durjana.

“Kalau begitu,” kepala desa menengahi, “biar Gusti Allah sendiri yang memutuskan nasib anak ini.”

Penduduk terdiam, mereka memandangi kepala desa dengan penuh tanya.

“Kita letakkan bayi ini dalam keranjang dan hanyutkan ia di sungai dekat desa. Kalau Gusti Allah berkehendak ia hidup, akan ada orang baik yang memungutnya. Jikalau sebaliknya… biarlah ia tenggelam atau mati kelaparan,” sambung kepala desa, bicaranya agak lebih cepat dari yang ia maksudkan. “Seperti Nabi Musa,” ia buru-buru menambahkan.

Warga diam sejenak, lantas mengangguk-angguk setuju. Ya, seperti Musa, hanyutkanlah ia dalam keranjang. Jikalau ia hanya bayi tak berdosa seperti halnya Musa, Tuhan akan menyelamatkannya seperti halnya Dia menolong Musa melalui tangan putri Firaun. Bila ia ternyata anak Iblis, kutuk Tuhan akan ada di atasnya. Biarlah ia mati. Biarlah ia musnah dan terlupa.

Rencana brilian kepala desa segera mereka laksanakan secepat yang mereka bisa. Demikian buru-buru mereka, sampai-sampai tak seorangpun sempat memperhatikan atau menyadari kemiripan bayi itu dengan seseorang. Tidak juga setelah bayi itu ditaruh dalam keranjang dan dihanyut arus.

Kepala desa menarik napas lega. Ia sudah aman. Ia dan rahasia kecilnya.

Guangzhou, 9 September 2011

Iklan
2 Komentar »

Belas Kasih Buat Sang Iblis: A Flash Fiction


Sang Iblis terbaring lemah di atas tempat tidur berseprai putih itu. Sesekali ia akan mengerang keras penuh kesakitan dan menjerit-jerit minta obat penghilang rasa sakitnya. Dan sebagaimana dulu, aku melayaninya tanpa mengeluh. Semua demi anak-anakku dan anak-anaknya.

Ada sensasi tersendiri menyaksikannya menggeliat dalam kesakitannya. Mungkin inilah yang namanya nikmat sebuah pembalasan. Dulu, ia akan tertawa-tawa melihatku menangis usai menderita gamparannya. Atau sepakannya. Atau permainan seksnya yang menjijikkan. Aku sudah kenyang akan semua itu. Namun demi ketiga anakku dan anaknya, aku bertahan.

“Waktunya tidak lama lagi,” begitulah menurut dokter. Kanker usus stadium akhir… tentu tak ada hari tanpa kesakitan baginya. Ia bahkan terlalu sakit untuk melanjutkan hobinya: menyakitiku.

Dahulu aku selalu menerima semua perlakuannya, asalkan ia tidak melakukan yang sama pada putra-putriku dan putra-putrinya. Asalkan ia tidak melakukan itu di depan anak-anak. Jangan sampai mereka melihatnya menganiayaku dan trauma karenanya.

Sang Iblis menerima tawaranku dan kami berdua menjadi aktris dan aktor hebat dalam sandiwara menahun ini. Di depan anak-anak dan semua orang lain, kami adalah suami-istri yang rukun harmonis. Malam hari, di kamar kami, di ranjang pengantin kami, aku adalah binatang yang siap dijagal oleh Iblis sadomasokis. Dan tak pernah ada yang melihat air mataku di malam-malam panjang itu. Bekas-bekas penganiayaan pun tersembunyi di balik pakaianku yang tertutup.

Sekarang tiga anak itu sudah dewasa dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Tinggallah aku dan Sang Iblis.

“Lastriiiiiiii!” ia meneriakkan namaku, suaranya sudah bercampur erangan. Aku tahu. Obat penghilang sakit. Aku pergi mengambilkan obatnya beserta segelas air.

Tatkala menungguinya meminum obat itu, sebuah pikiran tergila sekaligus terlogis melintas di otakku.

Pikiran itu diawali dengan sabda seorang Guru: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi yang menganiaya kamu…

Iblis, tidakkah kamu merupakan musuhku? Dan kini engkau sedang menderita… sakitkah, Mas? Kasihan kamu, Mas…

Lalu mataku beralih pada bantal putih di samping badannya yang kurus kering.

Mas, biarkan aku menaruh belas kasihan padamu… biarkan aku mengakhiri deritamu… menghadiahimu kematian yang damai, tanpa rasa sakit, dan tak berdarah… SEKARANG…

Kusambar bantal itu dan dengan kekuatan mengejutkan kubungkam wajah Sang Iblis. Sampai ia tak lagi meronta. Sampai tubuhnya terkulai damai di atas ranjang itu. Ranjang pengantin kami.

Guangzhou, 6 Maret 2011

Tinggalkan komentar »

Sleeping Victims: An English Poem


When would the hostility come to peace?

When would the dove fly safely to the air of freedom

without being shot by heartless firearm?

No sense about calamity and catastrophe

No lament of bereavement and parting,

When the children stopped their sobs,

Their laughs burst at once, the ballad of victory.

*

Late at night, lay them on beds,

Sing them lullaby, shut their eyes;

Put them in the blindness against sunrise,

Moonlit be their lampion to eternity,

Timeless travel between night and dawn.

Let them fly, flying through the rain,

Give them dream beyond their daydreams,

Away from torment and lament,

And tousled knot of this enigmatic enigma.

*

Watch, they created their own world;

A world of unspoken words.

They stared at the starry dark sky,

They gazed no haze all along the way.

*

Kiss their portraits, wave your hands,

Don’t wake them from their tranquility;

In their dreams, they believed

That they weren’t left in grief;

That there might be a happily-ever-after ending;

Neither lie nor truth,

Just hope,

The only good gift inside Pandora’s box.

*

The massacre would come soon;

Biers be their beds,

Dust from dust, back to dust;

Their eyes were closed peacefully;

As the morning came,

they had left limbo in triumph.

Tinggalkan komentar »

Bayang Kunang: A Short Story


Di atas air satu kunang

Di dalam air satu kunang

Simetris berdamping

Lembut

Terbang lampaui sisi perahu

Mereka kian terbang kian dekat

Perlahan lebur menjelma satu[1]

Ia menjumpa anak itu di tepi danau. Bisa dibilang, semua merupakan kebetulan. Kebetulan yang aneh, tentunya, karena terlalu banyak kebetulannya. Kebetulan, bahwa mereka seolah punya ikatan yang sama eratnya, sama karibnya dengan danau ini. Kebetulan, bahwa mereka berdua merupakan benda feromagnetik terhadap sesuatu yang sama: kunang-kunang. Kunang-kunang yang tiap malam berpesta-pora di atas tirta danau bening ini. Kebetulan lagi, bahwa ia merasa anak itu familier, bahkan sangat dekat akrab, dan si anak merasakan hal sama, kendati ini pertama kalinya mereka berdua bertemu. Dan kebetulan pula, bahwa dua pribadi yang teradhesi oleh demikian banyak kebetulan ini bisa bersua tanpa sengaja.

“Nama kamu siapa, Dik?” dia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Diri.”

“Diri? Bukan Dira atau Diki?”

“Bukan. Diri dengan huruf ‘i’.”

Perkenalan mereka hanya sebatas itulah. Si anak tidak menanyakan namanya. Usai perkenalan, topik pun berubah, mulai dari yang luas, lantas perlahan menyempit; mulai dari keadaan desa saat ini, lalu danau ini, lalu kunang-kunang.

Malam turun. Pada danau cahaya seekor kunang tercermin mewujud simetri nyaris sempurna.

“Kayaknya sekarang kunang-kunangnya nggak sebanyak dulu lagi, ya?” ia berkomentar, agak prihatin. Kunang-kunang itu, bagaimanapun, adalah sahabatnya semasa kecil, dan ada semacam perasaan tak rela menonjok hatinya kala menyadari bahwa kebanyakan mereka kini telah pergi, tak ada lagi.

Diri tidak menyahut, telapaknya yang berpeluh memelintir-melintir ranting dengan gelisah. Beberapa menit pastilah luruh dalam solven kesunyian, sebelum akhirnya si anak mengangkat muka dan berkata pelan, “Karena ada itu.” Tangannya menunjuk pada sumber cahaya lain yang lebih besar, lebih terang, dan lebih statis tak jauh dari sana. “Kunang-kunang bergeming,” ia menambahkan, ada selapis tipis kemarahan dalam suaranya, namun sisanya adalah pasrah.

Kunang-kunang bergeming? Istilah itu tak asing baginya. Nyaris terlupa, namun kata-kata si anak mengorek kembali memori yang lama ia pendam. Memori yang sesungguhnya tidak hilang, hanya mengendap membentuk bebatuan sedimen, seperti batu-batu di dasar danau.

* * *

Kebetulan, ia adalah anak yang sangat beruntung.

Matanya, menurut orang tuanya, adalah sepasang kunang-kunang yang berkilau bahkan di tengah hari paling terik sekalipun. Mata itu menyimpan kecerdasan dan impian dan ambisi. Impian dan ambisi yang diawali, sekali lagi, oleh kunang-kunang.

Masa kecilnya sebagian besar dihabiskan dengan menontoni kunang-kunang berpesta di atas danau tiap malam. Ia selalu suka tubuh mereka yang memancarkan cahaya, menari berdua-dua dengan pasangan simetris mereka di dalam air.

Tatkala pulang ke rumahnya malam-malam, ia akan melihat kunang-kunang lain. Kunang-kunang yang ini cuma bisa meretih, menari-nari di tempat, di atas tahta tabung tinggi kurus berwarna putih yang bisa mencair. Ia punya perasaan, cahaya kuning kunang-kunang itu sendirilah yang mencairkan tahtanya.

Di sekolah dasar yang letaknya beberapa kilometer dari desa, ia mendapati lagi kunang-kunang spesies lain. Spesies satu ini agak aneh; ia hanya hinggap tak bergerak di langit-langit. Tapi tetap saja, ia menyukainya. Kata ibu guru, jadi anak tidak boleh lasak. Mungkin kunang-kunang itu sedang berusaha menjadi anak yang penurut dan tidak lasak bergerak. Ia meneladan si kunang-kunang; tangan dilipat di atas meja, mata tertuju ke depan, punggung tegak, telinga mendengar dan menyimpan semua yang dicerocosi gurunya. Dengan cepat, ia sudah dikenal sebagai siswa teladan. Karena kunang-kunang bergeming itu. Ia berjanji dalam hati untuk berusaha semakin mengenal kunang-kunang di langit-langit kelasnya.

Kesempatan itu datang di SMP yang letaknya beberapa kilometer lebih jauh ketimbang SD-nya. Mereka masuk ke ruangan yang penuh dengan bola-bola kaca, ular-ular tembaga berlapis karet hitam-merah, dan tabung-tabung logam seukuran ibu jari. Di sana baru ia tahu kalau ternyata wujud asli kunang-kunang bergeming adalah bola kaca dengan benang di dalamnya dan ia punya nama alias “bola lampu” atau “bohlam”. Lebih jauh, kunang-kunang bergeming itu baru bisa bersinar jika dihubungkan pada tabung logam dengan ular tembaga. Ruangan bola kaca ini menjadi favoritnya. Kunang-kunang bergeming telah menang. Kunang-kunang penari danau pun lambat-laun tersedimentasi di lapis terbawah.

Selanjutnya adalah rentetan keberuntungan. Guru Fisika menyadari minat dan bakatnya menangani listrik (guru ini tentu saja tak paham segala omong kosong mengenai kunang-kunang bergeming, ia hanya tahu bocah itu adalah berlian yang kalau diasah bisa jadi bernilai). Mata kunang-kunangnya yang cerdas berhasil meyakinkan gurunya itu. Ia dibimbing untuk menjadi Thomas Edison kecil, dan untungnya dia sanggup dan menyenanginya,  bukannya menjadi gila karena beban belajar yang kelewat berat. Kata orang Fisika itu susah; dia agak heran juga. Baginya mengerjakan soal-soal Fisika, terutama yang berkaitan dengan listrik, sama naturalnya dengan mengamati kunang-kunang berdansa dengan refleksi mereka di cermin danau.

Ia memenangkan medali. Bukan emas, memang, hanya perak. Tapi perak sudah cukup untuk membawanya belajar ke luar negeri dengan cuma-cuma. Masyarakat kampungnya menganggapnya pahlawan yang akan memajukan desa mereka yang sampai kini masih tak kebagian listrik dan hanya bermodal lilin plus lampu tempel di malam hari. Mereka mengantarnya dengan penuh harap saat ia meninggalkan desa. Kunang-kunang penari, sementara itu, terbang dengan sedih ke danau mereka, yang kini tak pernah lagi ia kunjungi.

Kota tempat ia belajar sungguh menakjubkan. Kunang-kunang bergeming, atau lampu, demikian ia menyebutnya kini, bertebaran di langit seperti anak-anak bintang. Mereka bahkan bisa berkelip berpendar bersalin warna. Ah, tak pernah ia merasa sendirian di kota kunang-kunang ini. Kunang-kunang artifisial ini jauh lebih indah daripada asli. Ia ingin memboyong mereka—kunang-kunang artifisial—ke desanya yang selama ini hanya kenal gulita. Ia pasti akan melakukannya, suatu saat nanti.

* * *

Dan di sinilah ia, desa tempat kelahirannya. Usahanya tidak sia-sia; ia telah membangun cukup generator untuk membuat desa ini benderang. Lilin dan lampu teplok digantikan neon dan TL. Di sisi jalan ada lampu yang menerangi, sampai ke danau tempat kunang-kunang asli biasa berpesta.

“Mereka malu sama kunang-kunang bergeming itu,” ujar Diri, matanya menatap galau sisa kunang-kunang penari yang bisa dihitung jari. “Banyak yang pergi.”

“Mungkin bukan pergi,” katanya, berusaha menyanggah ucapan si anak. “Mereka bisa jadi… cuma tidak kelihatan. Kunang-kunang bergeming… lampu-lampu ini… lebih terang daripada mereka. Kau juga nggak bisa melihat bulan di siang hari, kan?”

“Sama saja,” dengus Diri dengan ngototnya.

Ia mengangkat bahu, menyerah menghadapi kekeraskepalaan anak itu.

“Aku paling suka melihat mereka bercermin di air danau,” Diri akhirnya memecah sunyi. “Menari-nari di sana. Itu tak bisa dilakukan oleh kunang-kunang bergeming.”

Diri menunduk menatap bayangannya di air. Ia menunduk bersama anak itu. Dua bayangan, seorang dewasa seorang anak, berdampingan, kian lama kian dekat. “Aku juga. Dulu,” ia berkata tanpa sadar. “Dan aku… bisa dibilang, merindukannya sekarang.”

Ia dan Diri sama-sama tersenyum. Dua pasang kunang-kunang membayang pada air danau. Sepasang mata kunang-kunangnya. Sepasang mata Diri. Ia mengerjap. Dua pasang kunang-kunang itu perlahan lebur menjelma sepasang. Ia menoleh. Diri sudah tidak ada. Hanya ia dan danau dan kunang-kunang.

“Diri…?”

Tentu saja, kenapa ia tidak menyadarinya? Diri adalah dirinya, atau bagian dari dirinya, setidaknya, yang tidak hilang melainkan tak kasatmata seperti bulan di siang bolong dan kunang-kunang di hadirat bola lampu; tidak mati melainkan dorman, tersedimentasi bersama kunang-kunang penari. Dirinya yang kanak-kanak. Dirinya yang mengagumi spesies kunang-kunang yang paling sederhana namun paling bermakna. Dirinya yang menyebut lampu dengan istilah “kunang-kunang bergeming”. Dirinya yang koeksis bersama ia yang sekarang, tersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan diri.

Sebagai seorang terpelajar, seorang ahli Fisika, tentu saja ia tidak boleh membuat kesimpulan konyol seperti itu. Kesimpulan yang ideal adalah bahwa semua ini hanya terjadi dalam kepalanya saja. Namun sebagai dirinya sendiri, ia beribu persen yakin inilah kesimpulan paling benar yang bisa ia tarik.

Bahwa ia rindu melihat bayang kunang-kunang penari pada bening kaca danau.

Bahwa ia membutuhkan kepolosan kunang-kunang sejati sama banyaknya seperti ia mengagumi keelokan kunang-kunang artifisial.

Bahwa ia rindu menjadi Diri.

Di atas danau, seekor kunang-kunang mendaratkan diri, memanfaatkan tegangan permukaan air sebagai tempat berpijak. Ia dan bayangnya bukan lagi dua, melainkan satu. Mereka saling kecup saling rangkul. Pemandangan aneh yang, anehnya, terasa manis.

Ia dan Diri pun saling peluk saling cium, dua yang esa. Dua pasang mata kunang-kunang berdiam dalam sepasang mata. Dengan lega, ia bisa menyebut lampu bukan sebagai lampu, melainkan kunang-kunang bergeming. Dengan bahagia, ia bisa pula mengatakan pada dunia bahwa inilah dirinya, dan danau kunang-kunang inilah rumah.

Guangzhou, 30 Agustus 2011


[1] Puisi Hu Shang (Di Atas Danau) karya Hu Shi.

Tinggalkan komentar »

Gerimis: A Short Story


Kelabu mendominasi warna hari ini. Abu-abu warna abumu dalam guci kecil murahan ini. Abu-abu warna blus lusuhku, yang beberapa belas tahun lalu masih putih metah. Abu-abu warna mega yang menggantung pada langit bersemburat merah lembayung.

“Jangan menangis, Dayu…,” begitu katamu, di atas ranjang pengantin kita yang lapuk digerogoti rayap, ranjang yang juga menjadi saksi bisu kepergianmu. “Tiang[1] akan tetap menjaga kamu. Tiang akan selalu hadir di sekelilingmu, pada bumi, pada pohon, bahkan dalam bubur encer sarapanmu tiap hari….”

Dan dengan kata-kata terakhir yang masih mengandung nada candamu yang akrab itu, engkau mengatupkan mata. Tak bergeming lagi. Om vayur anilam amrtam, athedam bhasmantam sariram, om krato smara klibe smara krtam smara[2]….

Kesendirian menyergap. Hanya satu yang menemanimu dalam metamorfosis tubuhmu menjadi abu. Aku. Seperti halnya kau menemaniku dalam hari-hari kita. Namun ternyata kau harus pergi lebih dulu dan meninggalkan aku beserta rahim yang kering ini, sekering mataku yang tak lagi meneteskan air mata.

Pernah kutanya padamu, andai engkau nanti jadi abu, hendak ditabur ke mana. Kau malah bilang, tabur saja di selokan di samping rumah kita, toh pada akhirnya selokan juga bermuara ke sungai, sungai bermuara ke laut…. Aku tak cuma ingin melihat laut, katamu. Ingin kukunjungi juga teman-teman yang terbuang di got: tikus, kecoak, katak… ya, karena mereka juga saudara kita yang terjebak pada bagian bawah roda samsara….

Mungkin kita juga sedang terjebak di tempat yang sama, Wayan. Engkau, karena kelahiran. Aku, karena engkau. Dalam pandangan orang, engkau ada di dasar roda dan aku turut mencemplungkan diri ke sana. Namun anehnya aku bahagia, Wayan… ya, aku bahagia kala itu.

Sampai saat ini aku tak pernah berhenti berharap, Ayah dan Ibu pada akhirnya bisa menerimamu. Tetapi bahkan hari ini pun mereka tak kunjung datang, tidak untuk berekonsiliasi, tidak untuk bertamu, tidak untuk turut berduka, tidak pula untuk menanyakan bagaimana nasib anak perempuan mereka selepas kepergianmu. Anak perempuan itu, seorang Ida Ayu yang memilih menjadi Sudra karena alasan konyol bernama Wayan. Ya, konyol, namun itulah satu-satunya alasan yang bisa kuberi.

Kadang tebersit di otakku untuk kembali ke rumah Ayah-Ibu, karena kesepian ini terlalu berat untuk aku tanggung sendiri. Tapi Wayan, haruskah kau tetap terusir ke luar pintu rumah itu, yang tak pernah mengakuimu? Haruskah aku kembali ke rumah yang manusia-manusia di dalamnya menganggap harta hatiku sebagai sampah? Menganggap penjagaku selama ini sebagai orang jahat yang menyesatkanku dan merampasku dari tangan orang tuaku?

Kau orang jahat?

Sesuai pintamu, kusebar abumu di selokan samping rumah. Setitik air yang bukan berasal dari mataku jatuh pada pipiku. Lalu setetes lagi. Air mata mega kelabu yang berat menggantung. Dan tak lama tanah becek oleh gerimis. Aku tetap tinggal di situ, menontoni gerimis menyapu pergi abumu. Selamat jalan, Wayan. Kalau kau sudah sampai ke laut lepas, semoga kita berjumpa lagi dalam sepiring ikan bakar atau segelas es rumput laut.

Ada sebuah mitos yang pernah kudengar dari mulut ibuku, bahwa gerimis yang turun pada saat penguburan adalah sebuah pertanda bahwa alam tengah menyampaikan belasungkawa bagi yang meninggal.

Kau orang jahat? Mungkinkah kepergian orang jahat ditangisi oleh awan-awan?

Kau orang jahat, kata ibuku. Perampas putri mereka yang berharga. Ibu bahkan menyumpahimu samsara menjadi kecoak atau tikus penghuni got. Namun gerimis ini, yang menjadi tanda bahwa langit tengah meratapimu, apa kira-kira kata Ibu bila dia melihatnya? Akankah Ibu mengubah pandangannya mengenai engkau?

Ah, siapa tahu beliau cuma tersenyum sinis sembari berkata pada diri sendiri bahwa itu semua hanya mitos, dan mungkin ia akan bilang bahwa Sang Hyang Widhi menganugerahkan hujan bagi orang baik maupun bagi orang jahat. Akan lebih mudah baginya untuk tidak lagi mempercayai mitos ketimbang percaya bahwa engkau orang baik.

Sebab gerimis, betapa banyak interpretasi yang bisa ditarik dari sana. Namun bagiku, makna gerimis sore ini cukuplah satu: air mata awan yang mengantarmu ke atas.

Wayan, apa kau hadir pula dalam gerimis ini? Kau berjanji akan selalu ada di sekelilingku….

Sejuk. Hantaran kesejukan yang dibawa oleh gerimis ini, apakah berasal darimu, Wayan? Karena candamu sejuk bak hujan sore ini. Aku ingin bermain denganmu, Wayan, bermain dan menyatu dengan rintik-rintik gerimis yang merembes perlahan pada serat-serat katun kemeja abu-abuku. Dengan demikian, kita bersama, kita bersatu. Persatuan yang tak perlu mengambil wujud embrio dalam rahim, persatuan yang tak kenal apa itu Brahmana Ksatria Waisya Sudra. Dan aku tahu kau orang baik, Wayan, karena kau tidak meninggalkanku barang sejenak, meski tak lagi dalam rupa yang sama.

Guangzhou, 5 Juli 2011


[1] Saya

[2] Doa Hindu bagi orang yang baru meninggal. Artinya kurang lebih: Ya Hyang Widhi, penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat vijaksara suci, semoga ia mengingat Engkau Yang Mahakuasa dan kekal abadi, ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa atma adalah abadi dan badan ini akhirnya akan hancur menjadi abu

Tinggalkan komentar »

Nina Bobo: A Poem


Nina bobo, Sayang

Imajimu tak lain ufuk benderang

Tangan kanan fajar lembayung cerlang

Pada bulan pada bintang elanmu digelantang

Pada bumi pada tanah ragamu menggelandang

Embriomu pada garbaku menerjang menantang

Harus aku buka gerbang, harus aku lepas terbang

Nina bobo, aku

Paksa mentari untuk mengaku

Kalah berabu oleh gelap beku

Nina Bobo, Cinta

Bumimu bola licin sempurna

Namun aku kenal realita

Dia banal dia tak binal tak kekal tak punya cita

Gemah ripah buat mereka semata

Buat aku, buat kita, gemalah riba

Nina bobo, saya

Kenang muasalmu sahaya

Tubuhmu beraroma sahaja

Pupilmu tatap buana maya

Panggung parodi para sri kaya

Dan kita ini figuran tak ada makna

Nina bobo, Nak, dibuai tanganku hangat

Lembap kesat berdedak jejak keringat

Nina bobo, Nak, di tanah lunak liat

Kala depan bukan untuk engkau lihat engkau pahat

Tetapi, ya Cinta, lelap di tilam tanah merah

Buktikan cercah cahaya esok terdedah

Engkau mungil, tak kupungkiri pula

Tapi engkau pun terlampau besar buat diam di garba

Lihatlah, akan besar engkau

Pada bulan ketilam pada bintang kejora suaramu bakal berdedau

Di hadapmu air bah malu berdesau

Engkau, buah ranum terzahir dari aku

Kuucap nina bobo mengiringmu ke alam semu.

Jambi, 21 Januari 2009

Tinggalkan komentar »

Penantian: A Short Story


Ingatan hari itu masih terpatri jelas pada memoriku. Hari Indra meninggalkan rumah. Katanya sih buat cari kerja. Dan ia berjanji pula hendak mengirimiku uang tiap bulan. Namun hari dan bulan berlalu tanpa kabar berita, tanpa sepucuk surat maupun sepeser rupiah hasil keringatnya.

Malam-malam kulewati di tengah kekhawatiran. Kapan Indra pulang? Kenapa ia tidak mengabariku? Anak perempuan kami yang masih bayi menetek pada dadaku yang kian lama kian kempis karena uang dalam kantong juga kian menipis. Tak lama, susuku mengering. Dan anak malang itu, kekurangan asupan nutrisi, akhirnya mati layu seperti mawar yang tak sempat berkembang.

Semenjak itulah, aku tidak lagi menunggu di dalam rumah tiap malam. Aku akan keluar rumah, duduk di trotoar keras beratap langit berkipas embus angin malam. Lama-kelamaan, aku tak pernah lagi kembali ke rumah. Aku terus duduk di trotoar itu, sebuah mangkuk plastik kotor di depanku, di mana orang-orang melempar koin dan uang kertas seribuan sebagai tanda belas kasihan.

Aku lupa berapa lama aku ada di sana. Aku lupa berapa lama aku tidak mandi. Aku hanya ingat dua hal: tatap nanar anakku saat ia menjelang ajal, dan wajah Indra saat ia memeluk dan mengecupku terakhir kali.

* * *

Seseorang mendekat. Indra?

Aku menyibak rambutku yang acak-acakan dan kasar bak ijuk. Bau apak memasuki hidungku.

Tidak, bukan… seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun. Ia berjalan di tengah udara malam yang menusuk tulang sembari bersenandung pelan. Aku memicingkan mata dan mempertajam pendengaranku untuk  mendengar apa yang ia senandungkan.

“Mama… Mama….”

Aku mengangkat kepala. Anak perempuan itu tengah menatapku lurus-lurus dengan wajah innocent-nya yang, tak tahu kenapa, mendirikan bulu romaku.

Ah, aku tahu kenapa.

Karena pada sepasang mata itu kulihat mata anakku, pada hidung dan mulutnya kulihat hidung dan mulut anakku… anakku yang sudah mati!

“Mama… Mama… ikut aku….”

Aku pasti sudah gila. Aku memalingkan wajah, berpura-pura diriku tidak melihat anak itu.

“Mama….” Tangan kecilnya dijulurkan ke arahku. Aku terpekik dan bangkit berlari. Aneh, biasanya tiap malam ada banyak orang lewat di jalan ini. Mengapa hari ini begitu sepi? Hanya ada kami berdua, aku dan anak itu…. Aku berlari dan berlari….

Sampai akhirnya aku menabrak seseorang dengan bunyi “bruk” keras.

Perlahan, aku memberanikan diri mendongak. Seorang lelaki… seorang….

“Indra!” aku mengenalinya seketika, dan spontan melemparkan tanganku ke bahunya, memeluknya erat. Namun lelaki itu hanya membisu.

“Indra…?” Aku menatap matanya. Mata itu berlingkar hitam dan sedih nanar.

“Kenapa kau tidak mau ikut kami, Asih?” ia bertanya.

Aku mundur spontan. Ia tidak sendirian… tangannya menggandeng anak perempuan itu! “Setelah tiga tahun penantian ini… kenapa kau tidak mau ikut aku dan anakmu, Asih?” ia mengulang.

Aku menggeleng-geleng keras. Tidak… ini mimpi! Ini mimpi! Aku akan berlari kembali ke trotoarku, dan saat itu aku pasti akan terbangun dari mimpi buruk ini!

Kuayunkan kakiku secepat yang aku bisa. Ah, itu dia trotoarku! Aku bisa melihat mangkuk plastik merah kotor itu…. Namun seseorang telah duduk di sana, di tempatku….

Aku terenyak… mengamati rambutnya yang acak-acakan dan kasar bak ijuk, tubuhnya yang kotor dan bau apak, pakaiannya yang rombeng, matanya yang terpejam, dadanya yang kering dan tak lagi turun-naik karena menarik napas… duduk tenang tak bergeming di sana, tak ubahnya patung lilin.

Kutolehkan wajahku ke belakang, dan kulihat kini mereka juga sedang menantiku dengan kedua tangan terbuka, seolah mengundang. Suamiku dan anakku….

Dan setetes air mata jatuh di pipiku dan kusibak rambutku. Pipi yang tak lagi kotor oleh debu jalan dan rambut yang tak lagi kasar bak ijuk….

Guangzhou, 14 Mei 2011

Tinggalkan komentar »

Lingkar: A Poem


Satu lingkar mewakil terang

Satu lingkar menghias kelam

Sembilan lingkar dia kecup

Satu lingkar ditapak jejak

Lingkar roda

Selingkar jalan tiga jarum

Tanpa rem dan gigi mundur

Berpaling tanpa daya berbalik putar

Lingkar kedatangan dan kepulangan

Noktah titik silih merebut piksel

Piksel-piksel tanah merah

Dan langit lembayung

Lingkar

Engkaukah

Bahasa

Tiada kenal A dan Z?

Engkaukah

Kisah burung Phoenix

Tiada kenal awal api dan akhir abu

Cerita tanpa prolog dan epilog?

Lingkar

Kuingin mengenal

Pemegang jangkamu.

Guangzhou, 10 Juni 2011

Tinggalkan komentar »

Aroma: A Short Story



Kedua mata tuaku yang lamur nyaris buta sudah jarang sekali kugunakan sekarang, sebab telah ada indera lain yang menggantikan tempatnya. Bukan telinga yang mendengar atau tangan yang meraba, melainkan hidung… ya, hidung. Karena penciumanku, tak tahu mengapa, lebih tajam dari kebanyakan orang. Seperti anjing.

Mungkin pada kehidupan sebelumnya, kamu adalah anjing, A Wei… Begitulah teman-temanku meledekku dulu. Namun tak mengapa, aku tak masalah dikait-kaitkan dengan anjing, sekalipun di kampungku ini anjing biasanya dianggap sebagai hewan pembawa sial. Sejak kecil, aku sudah merasa antara diriku dan anjing ada pertalian yang tak terputuskan. Aku menyukai mereka, dan anjing seganas apapun bisa jadi domba jinak di hadapanku. Aku memelihara seekor anjing kampung yang kunamai Jiajia.

Ada yang menarik di balik kisahku memelihara Jiajia. Di kampungku yang miskin, penuh takhayul, dan pembenci anjing ini, sebagian besar anjing liar akan mengalami nasib sama: berakhir di wajan, panci, atau panggangan. Sekitar lima tahun silam, kala mataku belum serabun ini dan jalanku masih gagah, Jiajia sendiri tadinya hampir ditangkap dan dimakan oleh tetanggaku, A Bing. Aku berlari mendapati anjing malang berbulu coklat kotor berbau apak itu dan memeluknya.

“A Bing, biar kuberi kau sedikit duit, belilah makanan lain buat menumu sore ini,” kataku padanya.

Wajah A Bing merah menyembunyikan gusar. “Terus mau kau apakan anjing buduk ini? Mau kau pelihara, begitu?”

Aku ragu sesaat, kemudian mengangguk.

“Cih… kepala pasukan anjing,” A Bing ngeloyor pergi sembari meludah ke tanah.

Sejak saat itu, Jiajia menjadi anggota keluarga baru di rumahku. Istriku sudah meninggal, dua putriku sudah menikah dan pindah ke kota lain. Tinggal aku dan putra bungsuku, A Long, yang usianya masih belasan. A Long, seperti halnya penduduk lain, juga tidak terlalu suka anjing, namun apa boleh buat, bapaknya cinta setengah mati pada binatang itu. Tatkala kuboyong Jiajia ke rumah, pandangannya adalah campuran jijik dan tak suka, tapi akhirnya sorot mata itu melunak.

“Cukup satu ekor ini saja ya, Pa,” katanya singkat, mendesah dalam penerimaan yang sulit.

Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Jiajia, selamat datang di rumah.

* * *

Tahun berganti tahun, dan penglihatanku semakin mengabur. Kini hanya kesan bayang dan siluet yang bisa ditangkap oleh retinaku yang sekarat. Wajah A Long dan Jiajia di mataku seperti topeng polos tanpa mata, hidung, dan mulut. Hanya ekor Jiajia yang dikibas-kibaskanlah yang masih dapat kulihat. Lama-kelamaan, ekornya pun tak dapat kulihat lagi. Begitu kelam, begitu buram.

Saat inilah, aku mulai belajar menggunakan indera penciumku. Bersamaan dengan luruhnya daya lihatku, daya penciumanku seolah meningkat dua kali lipat.

Dari tubuh Jiajia selalu keluar aroma samar yang khas. Aroma anjing yang jarang dimandikan, karena aku yang buta tak lagi bisa mengurusnya dan A Long malas memandikannya. Aroma yang tadinya samar itu, kini semakin lama semakin tajam dan jelas setelah aku buta, seolah telah menjadi sebuah sinyal yang mengetuk, bahkan menggedor, pintu penciumanku. Sepasang lubang hidung ini adalah substitusi mataku. Karena satu dan lain hal, dunia terasa lebih terang setelah kukatupkan mataku dan kubuka lebar hidungku.

Aku tak pernah punya kesulitan berhubungan dengan Jiajia. Tiap kali ia ada di dekatku, sinyal aroma tubuhnya segera menyeruak masuk ke hidungku, memberitahukanku akan keberadaan dirinya. Maka aku pun memanggil namanya, “Jiajia!” Dan ia akan menyalak riang, menghampiriku, dan membiarkan tangan keriputku mengelus bulunya yang kasar. Selama A Long sibuk bersawah sepanjang hari, Jiajia-lah yang menemani dan melipur kesepianku. Aromanya yang sebenarnya tak sedap itu, tak ubahnya harum hio terbakar dalam inderaku, menenangkan… dan terkadang, memabukkan.

* * *

Aroma lembap hujan musim semi dan embun dedaunan yang berpadu satu memberitahuku bahwa Chunjie (Imlek) sebentar lagi tiba.

“A Long… sebentar lagi Chunjie-kah?”

“Iya, Pa… dua hari lagi…” sahut A Long tanpa semangat.

“Kau ini masih muda, semangatlah sedikit. Jangan muram begitu. Tahun baru, semangat baru!” kataku, berusaha menyemangatinya. “Nanti kau buatkan jiaozi (pangsit) buat Chunjie ya! Kita makan sama-sama besok malam. Ah, benar-benar rindu makan jiaozi… dipikir-pikir, sudah lama sekali tak makan itu. Ditambah lagi umur bapakmu ini sudah tua… kesempatan tak banyak lagi…. Jadi, buatkan ya, A Long. Buat Papa.”

Tak ada jawaban.

“A Long…?”

“I… iya, Pa,” terdengar jawab penuh keraguan dari A Long. Keraguan… dan sebersit kekhawatiran tak bernama.

* * *

Aroma aneh yang (anehnya) familier menusuk hidungku saat A Long membuka kukusan jiaozi. Aromanya terasa semakin aneh saat A Long mengunjukkan jiaozi ke mulutku.

Jiaozi-nya agak aneh,” kataku sembari mengunyah. “Tapi ya sudahlah, kau kan memang belum pernah buat jiaozi sebelumnya….”

A Long melanjutkan menyuapiku tanpa bicara. Aku mengunyah dan memamah, tidak berkomentar sepatahpun lagi, demi menghargai kerja kerasnya membuatkanku jiaozi.

* * *

Aroma Jiajia. Dia ada di dekatku, sangat dekat.

“Jiajia!” panggilku nyaring.

Sunyi. Lagi-lagi. Apakah Jiajia mulai tuli atau apa? Mengapa ia tidak menyalak dan mendatangiku, biar kuraba bulu coklat kasarnya dan ekornya yang berkibas jinak itu?

Aroma Jiajia lagi. Dia selalu ada di dekatku, namun tak pernah lagi aku benar-benar bersentuhan dengannya. Kendati kutahu jarak kami begitu dekat, hatiku meneriakkan sebaliknya. Ia kini terasa begitu jauh dan tak teraih.

Harus kuakui, aku kesepian… dan aroma semata tak sanggup menghapus kesendirian itu. Tidak juga A Long yang kini kian diam dan kian jauh….

* * *

Aroma Jiajia lagi, dan aku sudah lelah memanggilnya. Aku berbaring di kursi goyangku. Senyap. Tanpa suara. Sampai bunyi engsel pintu karatan terdengar olehku saat A Long masuk ke rumah.

“A Long,” panggilku. “Bisa tolong bawakan Jiajia ke pangkuanku? Aku ingin menyentuhnya, memeluknya….”

Sunyi lama. Lantas A Long berkata pelan, “Jiajia… sedang main ke luar.” Kata-kata itu dingin bak jarum-jarum es dan tersendat bagaikan dahak di ujung tenggorokan.

Main ke luar?

“Tidak mungkin. Jiajia ada di dekatku,” kataku.

“Pa, mata Papa sudah tidak bisa melihat, bagaimana bisa menyimpulkan kalau Jiajia ada di dekat Papa?” A Long berkelit lagi.

“Aku… aku mencium baunya!” kataku membela diri. “Aku jelas-jelas mencium aromanya, di sini, di dekatku!”

Sunyi lagi. A Long tak berkata-kata.

Aroma itu semakin kuat, ah, semakin tajam, semakin dekat… seolah menyatu denganku, dengan tubuh rentaku…. Aroma itu… aroma itu melekat pada tiap jengkal kulitku. Tidak, bukan… aroma itu… memancar dari pori-poriku….

Dahiku basah oleh peluh. Aku tersengal dan menghela napas, lalu mengeluarkannya.

Aroma itu… ada di dalam napasku! Napasku! Bau anjing kampung yang jarang dimandikan… hidungku tak mungkin salah… tak mungkin….

“Pa,” akhirnya A Long membuka suara. “Papa ingat jiaozi itu…?”

Jiaozi?”

“Kami gagal panen saat itu, dan bahan pangan langka di mana-mana… anjing liar juga habis ditangkapi buat makanan malam Imlek…. A Long tak punya pilihan, Pa, selain mengambil dia… untuk diisikan ke dalam jiaozi….”

Perlu waktu bagiku untuk mencerna semua kata-kata yang barusan dimuntahkan A Long, dan ketika aku berhasil memahaminya, aku melompat bangkit dari kursi goyangku, dan didorong oleh rasa mual tak tertahan, aku mulai meludah melepeh memuntah. Dalam muntahku ada aromanya… aroma Jiajia… aroma jiaozi yang busuk merasuk menusuk….

Aku terus memuntah sampai kurasa diriku bersih dari aroma memuakkan itu… hatiku ingin mengoyak-ngoyak lambung dan ususku, mengeluarkan serpih-serpih Jiajia yang membusuk oleh E. coli di sana. Akan kubelah kolonku dan kulempar ke kobar api, semata demi mencucinya dari aroma itu… mencucinya dalam api yang membara merah.

Lalu aku terduduk. Lemas. Di sampingku, A Long membisikkan satu kata maaf.

Dan aroma itu perlahan menghilang, digantikan aroma lain, aroma hio terbakar…. Menenangkan… memabukkan…. Aku terbuai dalam rangkulan aroma hio. Sayup-sayup kudengar bunyi salak anjing, dan kurasa bulu-bulu kasar menggelitik saraf sensoris tangan keriputku….

Guangzhou, 6 Mei 2011

3 Komentar »

Rembulan Merah Kirmizi: A Short Story


Malam ini, piano merah di ruang keluarga itu kembali mengalunkan simfoni duka yang sudah amat familier: Moonlight Sonata, First Movement. Nada-nada adagio dari tuts-tuts piano itu tak hanya memanggil bulan untuk hadir dalam cahaya pucatnya, ia juga memanggilku untuk bangun dan menghampiri asal suara itu. Seperti magnet, suara musik itu menarikku dalam undangan tak tertolak.

Aku berjalan perlahan menuju ruang keluarga. Ternyata memang ibuku, duduk anggun di atas bangku piano, tangannya menari di atas hitam-putih tuts. Dia seolah tidak menyadari aku datang, matanya menatap kosong ke arah purnama yang pasi tak berseri. Aku putuskan untuk memanggilnya, “Ma….”

Dengan sebuah sentakan, ia berhenti bermain, namun tak jua ia menoleh ke arahku. Ia hanya berkata dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisik, “Jangan ganggu aku….”

Aku bergeming, menanti kata-kata berikutnya. Namun hanya kesunyian yang tinggal di antara kami, sunyi yang mencekam dan sehitam langit malam, kontras dengan merah piano Mama. Mama juga membisu membeku, tapi sejurus kemudian tubuhnya gemetar dan ia akhirnya sesenggukan sembari membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. “Pergi… pergi… biarkan aku sendiri…” ia menggumam tak jelas di antara isakannya.

Bingung bercampur kecewa, aku berbalik dan kembali menyusuri koridor rumah yang panjang dan gulita, hanya diterangi oleh satu lampu fluorescent yang pinggirnya sudah mulai menghitam dimakan usia. Hanya cahaya lampu nan suram itulah yang mampu berempati padaku.

“Lampu…” aku berbisik sendu. “Kenapa Mama selalu menginginkan aku pergi darinya?”

Lampu itu mengedip sekali sebagai jawaban.

* * *

Lagi-lagi Moonlight Sonata, First Movement. Aku terbangun lagi. Ah, semua ini sungguh seperti déjà vu. Rasanya baru kemarin aku terbangun oleh lagu ini. Dan lagi, kenapa selalu First Movement? Bukankah sonata ini masih punya Second dan Third Movement? Selagi aku memikirkan hal ini, aku kembali ditarik oleh magnet lagu itu menuju ruang keluarga, di mana terletak piano merah dan ibuku yang duduk di atas bangkunya, mata menatap hampa pada bulan pucat di langit kelam.

“Ma….” Kali ini aku menarik bajunya. Mama, lihatlah aku. Aku anakmu….

Ia spontan menghentikan permainan. Jeritan histeris Mama adalah segalanya yang tersisa dari malam itu. Jeritan itu menghantui relung-relung terdalamku, bergema di tiap sudut-sudut berdebuku. Jeritan yang penuh luka, penuh ketakutan, penuh penyesalan….

Malam ini, kembali aku tidur sendiri di kamarku. Aku menangis diam-diam.

* * *

Moonlight Sonata, First Movement… tarikan magnet… piano merah… bulan pucat susu… Mama….

Aku kembali berdiri di samping piano. Kali ini aku tak berbuat apapun, tidak pula memanggil namanya. Aku lelah, lelah sekali… letih aku mengejar perhatian dari seorang ibu yang sepertinya tidak menginginkanku. Aku hanya memandang jemari lincahnya di atas tuts piano dalam senyap yang mentransendensi waktu, pada saat yang bersamaan mengagumi bakat ibuku. Mungkin bagi Mama bakatnya jauh lebih penting dari aku…. Ah, jikalau demikian, biarlah kurelakan Mama bersama pianonya… biarkan ia menyelesaikan seluruh lagu itu….

Akhirnya, First Movement berakhir. Alih-alih melanjutkan ke Second Movement, Mama berhenti dan berbisik pada udara kosong di depannya, “Sheila… semua sudah selesai… Mama sudah menyelesaikan First Movement… sekarang, Mama janji, Mama akan selalu ada buatmu….”

Akhirnya! Akhirnya Mama akan selalu ada buatku! Aku memanggilnya dengan penuh harap, “Ma, aku di sini! Ma, Sheila sayang Mama!”

Ia masih menatap kosong ke depan, seakan tak menyadari keberadaanku, tak mendengar kata-kataku.

“Ma…?”

Senyap.

* * *

Dua orang paruh baya, laki-laki dan perempuan, mengamati seorang wanita muda yang duduk tercenung di bangku piano dari kejauhan.

“Pa… bagaimana ini? Rena kelihatannya terobsesi setengah mati pada lagu itu, namun selalu saja dia menangis atau histeris tiap kali memainkannya. Pikiran Rena sepertinya sedikit terganggu setelah… setelah…” ia tak sanggup melanjutkan.

“Dokter sudah bilang, itu adalah perasaan bersalahnya sendiri yang menghantuinya. Perasaan bersalah karena lebih mementingkan piano dari anak sendiri, sampai-sampai….”

“Cukup, jangan teruskan,” kata si perempuan paruh baya dengan napas tercekat. “Aku… aku tidak tahan… tak sanggup mengingat itu….”

Mengingat? Mengingat apa? Opa, Oma, apa yang sebenarnya terjadi?

Sebuah kelebat memori melintas cepat di otakku. Merah… merah kirmizi…. Kupandang sepasang tangan mungilku. Keduanya basah dan merah kirmizi, semerah piano di ruang keluarga! Aku… aku….

Ya, aku ingat hari itu. Ibuku, Sang Pianis, sibuk berlatih untuk perlombaan piano yang sebentar lagi akan ia ikuti. Moonlight Sonata, First Movement adalah lagu pilihannya. Tiap malam ia berlatih memainkan lagu itu, meninggalkanku tidur sendiri di kamar, muram dan kesepian.

Hari itu, aku sudah menunggu beberapa jam sepulang sekolah, namun Mama tak juga datang menjemput. Kuputuskanlah untuk pulang sendiri, berjalan kaki. Kuseberangi hitam-putih zebra-cross yang tak ubahnya tuts piano dengan riang… sampai kelebatan itu datang menyambar menerjang. Merah. Seluruhnya merah kirmizi….

Yang kuingat berikutnya, aku bangkit dari aspal panas dan buru-buru berlari pulang ke rumah, mencari Mama yang ternyata masih duduk di bangku piano memainkan Moonlight Sonata.

“Opa, Oma…” aku memanggil mereka, berharap tahu lebih banyak.

Sunyi lagi. Seisi alam seolah membisu terhadapku.

“Opa, Oma!” aku berusaha memeluk mereka, namun tanganku yang merah basah tak dapat menggapai tubuh daging dan tulang mereka. Mereka berlalu pergi seakan tak ada apa-apa.

“Mama! Opa dan Oma…” aku baru berbalik hendak mengadu pada Mama, namun sekali lagi mata Mama hanya terpaku pada bulan yang menggantung di langit malam. Titik air mata pada sudut matanya laksana bintang yang berpendar letih.

Rembulan pucat itu perlahan memerah pula, seperti bola kapas yang dicelup dalam gincu cair… merah piano… merah darah…. Merah yang menarikku ibarat magnet, mengundangku seperti lagu Moonlight Sonata… undangan yang tak pernah dapat kutolak kulawan….

Malam ini, aku tak lagi tidur di rumah… aku berpulang ke bulan merah kirmizi!

Guangzhou, 27 April 2011

Tinggalkan komentar »